Kesuksesan Adalah Milikku. Aku Akan Mendapatkanmu Walau Kemanapun Itu. Akan Kukejar Kamu Sampai Kemanapun Itu. Karena Kesuksesan Adalah Hak ku.

Asal Usul Dan Pengertian Tasawuf

Link Makalah Doc (Klik)

ASAL USUL DAN PENGERTIAN

TASAWUF


Makalah ini Disusun Sebagai Salah Satu Tugas

Mata Kuliah “Ilmu Tasawuf”


Dosen Pengampu :

H Anis Humaidi, M.Ag

Disusun Oleh :

Mochamad Badrusalim (9321 052 08)

Moh Agus Musta’in (9321 067 08)


JURUSAN TARBIYAH

PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI

(STAIN) KEDIRI

2011


Pendahuluan

  1. Latar Belakang

Tasawuf memiliki akar sejarah yang panjang sejak awal adanya Islam, mulai dari Rasulullah, para sahabat, tabi’in hingga sekarang. Tasawuf adalah nama lain dari mistisisme dalam Islam, dikalangan orientalis Barat dikenal denagn sebutan sufisme dalam Islam, sehingga istilah sufisme tidak ada pada mistisisme agama-agama lain.

Tasawuf bertujuan memperoleh suatu hubungan khusus langsung dari Tuham. Hubungan yang dimaksud adalaha sebagai manifestasi manusia sebagai hamba yang harus senantiasa mengabdikan dirinya kehadirat Allah Rabbal ‘Alamin. Taasawuf mengajarkan cara mensucikan diri, meningkatkan moral dan membangun kehidupan jasmani dan rohani guna mencapai kebahagiaan abadi. Unsur utama tasawuf adalah penyucian jiwa, dan tujuan akhirnya adalah tercapainya kebahagiaan dan keselamatan abadi.


  1. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana Asal Usul Tasawuf?

  2. Bagaimana Pengertian Tasawuf?

  3. Apa Dasar-dasar Tasawuf?

  4. Apa Tujuan Tasawuf?

  5. Bagaimana Perkembangan Tasawuf?


Pembahasan

  1. Asal Usul Tasawuf

Asal kata tasawuf

Lafal Tasawuf merupakan masdar kata تَسَوَّفَ - يَتَسَوَّفُ - تَسَوَّفًا yang merupakan kata kerja tambahan dua huruf (ta’ dan tasydid), sebenarnya berasal dari kata صَافَ - يَصُوْفُ – صَوْفًا dengan masdar yang bermakna “memiliki bulu yang banyak”, dalam kaidah bahasa arab tambahan (ta’ dan tasydid) memiliki arti “menjadi atau berpindah”. Sehingga التَصَوُّفُ memiliki arti (menjadi) berbulu yang banyak; dengan arti sebenarnya menjadi sufi, yang cirri khas pakaiannya selalu terbuat dari bulu domba (wol).1

Secara etimologis, tasawuf memiliki banyak arti kata, antara lain:2

  1. Ahl al-suffah ( أهل الصفة ) orang-orang yang ikut pindah dengan Nabi dari Mekah ke Madinah, dan karena kehilangan harta, berada dalam keadaan miskin dan tak mempunyai apa-apa. Mereka tinggal di Masjid Nabi dan tidur diatas bangku batu dengan memakai pelana sebagai bantal. Pelana disebut suffah, Inggrisnya Saddle-Cushion dan kata sofa dalam bahasa Eropa berasal dari kata suffah (صفة ). Sungguhpun miskin ahl-suffah berhati baik dan mulia. Sifat tidak mementingkan keduniaan, miskin tetapi berhati baik dan mulia itulah sifat-sifat sufi.

  2. Saf (صف ) pertama. Sebagaimana halnya orang sembahyang di saf pertama mendapat kemuliaan dan pahala, demikian pula kaum sufi dimuliakan Allah dan diberi pahala.

  3. Sufi (صوفى ) dan صافى dan صفى yaitu suci. Seorang sufi adalah orang yang disucikan dan kaum sufi adalah orang-orang yang telah mensucikan dirinya melalui latihan berat dan lama.

  4. Sophos kata Yunani yang berarti hikmat. Orang sufi betul ada hubungannya dengan hikmat, hanya huruf s dalam sophos ditranliterasikan ke dalam Bahasa Arab menjadi س dan bukanص , sebagai kelihatan dalam kata فلسفة dan kata philosophia. Dengan demikian seharusnya sufi ditulis سوفىdan bukan صوفى.

  5. Suf ( صوف ), kain yang terbuat dari bulu yaitu wol. Hanya kain wool yang dipakai kaum sufi adalah wol kasar dan bukan wol halus seperti sekarang. Memakai wol kasar diwaktu itu adalah simbol kesederhanaan dan kemiskinan. Lawannya adalah memakai sutra, oleh orang-orang yang mewah hidupnya dikalangan pemerintahan. Kaum sufi sebagai golongan yang hidup sederhana dan dalam keadaan miskin, tetapi berhati suci dan mulia, menjauhi pamakaian sutra dan sebagai gantinya memakai wol kasar.

Kontroversi asal-usul aliran sufisme

Teori-teori mengenai asal timbul atau munculnya aliran ini dalam islam juga berbeda-beda, antara lain3 :

  1. Pengaruh Kristen dengan paham menjauhi dunia dan hidup mengasingkan diri dalam biara-biara. Dalam leteratur Arab memang terdapat tulisan-tulisan tentang rahib-rahib yang mengasingkan diri di padang pasir Arabia. Dikatakan bahwa zahid ( زاهد ) dalam sufi Islam meninggalkan dunia, memilih hidup sederhana dan mengasingkan diri, adalah atas pengaruh cara hidup rahib-rahib Kristen ini.

  2. Falsafat mistik Pytagoras yang berpendapat bahwa roh menusia bersifat kekal dan berada di dunia sebagai orang asing. Badan jasmani merupakan penjara bagi roh. Kesenangan roh yang sebenarnya ialah alam samawi. Untuk memperoleh hidup senang di alam samawi, manusia harus membersihkan roh dengan meninggalkan hudup materi, yaitu zuhd ( الزهد ), untuk selanjutnya berkonsentemplasi. Ajaran Pythagoras untuk meninggalkan dunia dan pergi berkontemplasi, inilah menurut pendapat sebagian orang, yang mempengaruhi timbulnya zuhd dan sufisme dalam islam.

  3. Filsafat emanasi Plotinus yang mengatakan bahwa wujud ini memancar dari zat Tuhan Yang Maha Esa. Roh berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Tetapi dengan masuknya kea lam materi, roh menjadi kotor, dan untuk dapat kembali ketempat asalnya roh harus terlebih dahulu dibersihkan. Pensucian roh ialah dengan meninggalkan dunia dan mendekati Tuhan sedekat mungkin, kalau bisa bersatu dengan tuhan. Dikatakan pula bahwa falsafat ini mempunyai pengaruh terhadap munculnya kaum zahid dan sufi dalam Islam.

  4. Ajaran Budha dengan paham nirwananya. Untuk mencapai nirwana, orang harus meninggalkan dunia dan memasuki hidup kontemplasi. Faham fana’ (الفناء ) yang terdapat dalam sufisme hampir serupa dengan faham nirwana.

  5. Ajaran-ajaran Hinduisme yang juga mendorong manusia untuk meninggalkan dunia dan mendekati Tuhan untuk mencapai persatuan atman dan brahman.


  1. Pengertian Tasawuf

Ada beberapa definisi tasawuf yang dikemukakan oleh para ulama’, diantaranya4 :

  1. Asy Syekh Muhammad Amin Al Kurdy

التَّصَوُّفُ هُوَعِلْمٌ يُعْرَفُ بِهِ اَحْوَلُ النَّفْسِ مَحْمُوْدُهَا وَمَذْمُوْمُهَا وَكَيْفِيَةُ تَطْهِيْرِهَا مِنَ اْلمَذْمُوْمِ مِنْهَا وَتَحْلِيَتُهَا بِاْلاِتِّصَافِ بِمَحْمُوْدِهَا وَكَيْفِيَّةُ السُّلُوْكِ وَالسَّيْرُ اِلَى اللَّهِ تَعَالَى وَاْلفِرَارُاِلَيْهِ

“Tasawuf adalah suatu ilmu yang dengannya dapat diketahui hal ihwal kebaikan dan keburukan jiwa, cara membersihkannya dari (sifat-sifat) yang buruk dan mengisinya dengan sifat-sifat yang terpuji, cara melakukan suluk, melangkah menuju (keridhaan) Allah dan meninggalkan (larangan-Nya) menuju (perintah-Nya).”

  1. Imam Al Ghazali dari pendapatnya Abu Bakar Al Kattany.

التَّصَوُّفُ خُلُقٌ فَمَنْ زَادَ عَلَيْكَ بِاْلخُلُقِ زَادَ عَليْكَ بِالتَّصَوُّفِ فاْلعِبَادُ اَجَا بَتْ نُفُوْسُهُمْ اِلَى اْلأَعْمَالِ لِأَنَّهُمْ يَسْلُكُوْنَ اِلَى بَعْضٍ اْلأَخْلَاقِ لِكَوْنِهِمْ سَلَكُوْا بِنُوْرِ اْلإِيْمَانِ

“Tasawuf adalah budi pekerti; barangsiapa yang memberikan bekal budi pekerti atasmu, berarti ia memberikan bekal atas dirimu dalam tasawuf. Maka hamba yang jiwanya menerima (perintah) untuk beramal karena sesungguhnya mereka melakukan suluk dengan nur (petunjuk) Islam. Dan ahli Zuhud yang jiwanya menerima (perintah) untuk melakukan beberapa akhlak (terpuji) karena mereka telah melakukan suluk dengan nur (petunjuk imannya”.

  1. Mahmud Amin An Nawawy dari pendapat al Junaid al Baghdady yaitu.

التَّصَوُّفُ حِفْظُ اْلأَوْقَاتِ, قَالَ:وَهُوَ اَنْ لَا يُطَالِعَ اْلعَبْدُ غَيْرَ حَدِّهِ وَلَايُوَافِقُ غَيْرَ رَبِّهِ وَلَا يُقَارِنُ غَيْرَوَقْتِهِ

“Tasawuf adalah memelihara (menggunakan) waktu. (Lalu) ia berkata: seorang hamba tidak akan menekuni (amalan Tasawuf) tanpa aturan (tertentu), (menganggap) tidak tepat (ibadahnya) tanpa tertuju kepada Tuhan-Nya dan merasa tidak berhubungan (dengan Tuhannya) tanpa menggunakan waktu (untuk beribadah kepadaNya)”

  1. As Suhrawardy mengemukakan pendapat Ma’ruf al Karakhy,

التَّصَوُّفُ اْلأَخْذُ باْلحَقَائِقِ وَاْليَأْسُ فِي اَيْدى اْلخَلَائِقِ

“Tasawuf adalah mencari hakikat dan meninggalkan sesuatu yang ada di tangan makhluk (kesenangan duniawi)”

Dari beberapa definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa tasawuf adalah melakukan ibadah kepada Allah dengan cara-cara yang telah dirintis oleh ulama’ sufi, yang disebutnya sebagai suluk untuk mencapai suatu tujuan; yaitu ma’rifat kepada alam yang ghaib, mendapatkan keridhaan Allah serta kebahagiaan di akhirat.

  1. Dasar-dasar Tasawuf

Sumber dari Al-Qur’an

…      

…“Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku". (QS Al Anbiya’ : 25)

…     

“…dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (QS Al Anfaal : 45)

       … 

“Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring …”(QS Ali Imran : 191)

            

"orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.)QS Ar Ra’du : 28(

                      

"Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang Telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami Telah beriman, Maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad s.a.w.)” (QS Al Maidah : 83(

                                    

“Allah Telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, Kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.”)QS Az Zumar : 23(

           

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang kami berikan”.)QS As Sajdah : 16)

            

“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji.”(QS Al Isra’ : 79)

…       .....

“…Katakanlah: "Kesenangan di dunia Ini Hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa.” )QS An Nisa’ : 77)

…      

“…dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya,” (QS Qaf : 16)

Sumber dari Hadits

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّقُوا فِرَاسَةَ الْمُؤْمِنِ فَإِنَّهُ يَنْظُرُ بِنُورِ اللَّهِ

“Rasulullah SAW bersabda: Takutilah firasat orang mukmin karena ia memandang dengan Nur Allah”. (HR At Tirmidzi)

جاء رجل الى النبى صلى الله عليه وسلم فقال يا نبي الله أوصنى فقال عليك بتقو الله فإنّه جماع كل خير وعليك بالجهاد فإنه رهبانية المسلم وعليك بذكرالله فإنه نور لك (رواه البخارى)

Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW, lalu berkata: Wahai Nabi Allah berwasiatlah kepadaku. Nabi bersabda: Bertakwalah kepada Allah karena itu adalah himpunan setiap kebaikan. Berjihadlah, karena itu kehidupan seorang rubbani muslim. Berzikirlah, karena itu adalah nur (cahaya) bagimu”5

...اعبد الله كأنك تراه فإن لم يكن تراه فإنه يراك (متفق عليه)

“Sembahlah Allah seolah-olah engkau melihatNya, maka apabila engakau tidak dapat melihatNya, maka pastilah Ia melihatmu.6

وعن على كرم الله وجهه: قلت يا رسول الله اي الطريقة اقرب الى الله واسهلها على عباد الله وافضالها عند الله تعالى ؟ فقال يا على عليك بدوام ذكر الله فقال على كل الناس يذكرون الله فقال ص م : يا على لا تقوم الساعة حتّى لا يبقى على وجه الارض من يقول: الله. الله فقال له على كيف اذكر يارسو لله؟ فقال ص م: عمض عينيك واسمع عنّى ثلاث مرات ثمّ قل مثلها وانا اسمع. فقال ص م: لا اله ال الله ثلاث مرات مغمضا عينه ثمّ قالها على كذالك

“Dan dari Ali karamallahu wajhahu: Aku berkata, ya Rasulullah manakah jalan yang terdekat kepada Allah dan termudah atas hamba-hamba Allah dan terafdhal di sisi Allah? Maka Rasulullah SAW bersabda: Ya Ali mestilah atasmu berkekalan mengingat (zikir) Allah. Maka Ali berkata, tiap orang berzikir kepada Allah, Maka Rasulullah SAW bersabda: Ya Ali, tidak akan terjadi kiamat sehingga tiada tinggal lagi diatas permukaan bumi ini orang-orang yang mengucapkan Allah, Allah. Maka Ali berkata kepada Rasulullah, bagaimana caranya aku berzikir kepada ya Rasulullah? Maka Rasulullah SAW bersabda: coba pejamkan kedua matamu dan dengarlah dari saya ucapan tiga kali. Kemudian ucapkanlah Ali seperti itu dan aku akan mendengarkan. Maka Rasulullah SAW, La Ilaha Illa Allah tiga kali sedang kedua matanya tertutup. Kemudian Ali pun mengucapkan kalimat La Ilaha Illa Allah seperti demikian.”7

  1. Tujuan Tasawuf

Secara umum tujuan terpenting dari sufi adalah agar berada sedekat mungkin dengan Allah. Akan tetapi apabila diperhatikan karakteristik tasawuf secara umum, terlihat adanya tiga sasaran dari tasawuf, yakni :8

  1. Tasawuf yang bertujuan untuk pembinaan aspek moral, meliputi kestabilan jiwa yang berkeseimbangan, penguasaan dan pengendalian hawa nafsu sehingga manusia konsisten dan komitmen hanya kepada keluhuran moral. Aspek ini pada umumnya merupakan tujuan praktis dari tasawuf.

  2. Tasawuf yang bertujuan untuk ma’rifatullah melalui penyingkapan langsung atau metode al-kasyf al-hijab. Tasawuf ini bersifat teoritis dengan seperangkat ketentuan khusus yang diformulasikan secara sistematis analisis.

  3. Tasawuf yang bertujuan untuk membahas bagaimna system pengenalan dan pendekatan diri kepada Allah secara mistis filosofis, pengkajian garis hubungan antara Tuhan dan apa arti dekat dengan Tuhan.

Dari beberapa uraian singkat tadi, dapat dirumuskan tujuan akhir sufisme adalah etika murni atau psikologi murni dan atau secara bersamaan yaitu: a) Penyerahan diri sepenuhnya kepada kehendak mutlak Tuhan, karena Dialah penggerak utama dari semuakejadian di ala mini, b) Penanggalan secara total kein ginan pribadi dan melepas diri dari sifat-sifat jelek yang berkenaan dengan kehidupan duniawi, dan 3) Peniadaan kesadaran terhadap “diri sendiri” serta pemusatan diri pada perenungan terhadap Tuhan semata, tiada yang dicari kecuali Dia.9


  1. Perkembangan Tasawuf

Term tasawuf dikenal luas di kawasan Islam sejak pengunjung abad ke dua Hijriyah, sebagai perkembangan lanjut dari kesalehan asketis atau para zahid yang mengelompok di serambi Masjid Madinah.10

Kepesatan tasawuf sebagai salah satu kultur keislaman, memberikan tiga tipe gerakan yang muncul, yakni :11

  1. Karena corak kehidupan yang profan dan hidup kepelesiran yang diperagakan oleh umat Islam terutama pra pembesar negeri dan para hartawan. Dari aspek ini, dorongan yang paling deras adalah sebagai reaksi terhadap sikap hidup yang secular dan glamour dari kelompok elit dinasti penguasa di istana.

  2. Timbulnya sikap apatis sebagai reaksi maksimal kepada radikalisme kaum Khawarij dan polarisasi politi yang ditimbulkannya. Kekerasan pergulatan politik pada masa itu, menyebabkan orang-orang yang ingin mempertahankan kesalehan dan ketenangan rohaniah, terpaksa mengambil sikap menjauhi kehidupan masyarakat ramai untuk menyepi dan sekaligus ,menghindarkan diri dari keterlibatan langsung dalam pertentangan politik.

  3. Karena corak kodifikasi hukum islam dan perumusan ilmu kalam yang rasional sehingga kurang bermotivasi etikal yang menyebabkan kehilangan moralitasnya, menjadi semacam wahana tiada isi atau semacam bentuk tanpa jiwa.

Berikut beberapa trokoh dalam sufisme dari masa ke masa.

  1. Abad pertama dan kedua Hijriyah, tokoh-tohnya meliputi : Salman al Farisi, Abu Dzar al-Ghifari, Ammar bin Yasir, Hudzaifah bin al Yaman, Hasan al Basyri, Malik bin Dinar, Ibrahim bin Adham, Rabi’ah al-Adawiyah dan masih banyak lagi.

  2. Abad ketiga dan keempat Hijriyah, tokoh-tokohnya meliputi: Ma’ruf al-Karkhi, Surri al-Saqti, Abu Sulaiman ad-Darani, Ahmad bin al-Hawari ad-Damsyiqi, Haris al-Muhasibi, As-Syibli dll.

  3. Abad kelima Hijriyah, dengan tokohnya meliputi: Al Ghazali,Abu Yazid, Al Hallaj, al Qusayri dan Al Harawi.

  4. Abad keenam Hijriyah, As-Suhrawardim Mahyuddin Ibn ‘Arabi, Umar Ibn Al-Faridh, Ibn Sab’in dll.

  5. Abad kedelapan dan seterusnya, deng tokoh-tokohnya: Al Kisani, Abdul Karim Aj-Jilli, Ala’udah Simnani, Abdul Razzaq Kasyani, Khawajah Hafiz Syirazi, Mahmud Syabistari, Sayyid Haidar Amuli, Abdul Karim Jilani.

  6. Sekilas tentang Neo-Sufisme, adalah konsep sufisme yang diaplikasikan dengan kehidupan modern masa kini, tokoh-tokohnya meliputi Hamka dalam bukunya “Tasawuf Modern”, Fazlur Rahman dalam bukunya “Islam”, Fazlur Rahman sendiri menyebur perintis Neo-Sufisme adalah Ibn Taimiyah yang diteruskan oleh muridnya Ibn Qoyyim.


Kesimpulan

Tasawuf memliki akar kata yang memiliki arti berbulu, hal ini karena dilihat dari karakteristik orang yang menjalani jalan sufisme (sufi) memakai pakaian yang terbuat dari bulu (wol) kasar sebagai symbol kesederhanaan dan menjauhi hal-hal keduniawian (zuhud).

Sufisme juga sedikit banyak dipengaruhi oleh budaya-budaya asing, pengaruh hinduisme, budha, Kristen filsafat yunani dan lain sebagainya. Namun istilah sufisme adalah khas dalam islam dan tidak ada dalam ajaran agam-agama alinnya.

Definisi tasawuf sendiri dapat disimpulkan bahwa tasawuf adalah melakukan ibadah kepada Allah dengan cara-cara yang telah dirintis oleh ulama’ sufi, yang disebutnya sebagai suluk untuk mencapai suatu tujuan; yaitu ma’rifat kepada alam yang ghaib, mendapatkan keridhaan Allah serta kebahagiaan di akhirat.

Dasar dasar tasawuf banyak terdapat di dalam Al Qur’an seperti QS Al Anbiya’ : 25, QS Al Anfaal : 45, QS Ali Imran : 191, QS Ar Ra’du : 28, QS Al Maidah : 83, QS Az Zumar : 23, QS As Sajdah : 16, QS Al Isra’ : 79, QS An Nisa’ : 77, QS Qaf : 16. Dan juga banyak dalam hadits-hadits Rasulullah SAW.

Tasawuf memiliki tujuan memperbaiki akhlak dan moral, mengendalikan hawa nafsu, dan berusaha mendeka kepada Allah dan menjauhi kehidupan dunia (zuhud). Perkembangan tasawuf telah ada dimulai dari adanya Islam yang di bawa oleh Rasulillah SAW dan terus berkembang dari masa ke masa sampai saat ini.


DAFTAR PUTAKA


Siregar, A Rivay.Tasawuf dari Sufisme Klasik ke Neo Sufisme(Jakarta:PT Raja Grafindo Persada.2002

Mustofa, A.Akhlak Tasawuf. Bandung:Pustaka Setia.1997.

Nasution, Harun.Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam. Jakarta Bulan Bintang.1995.

Jamil, M.Cakrawala Taswuf(Jakarta:Gaung Persada Press.2007

Khaliq, Abdurrahman Abdul dan Ihsan Illahi Zhahir.Pemikiran Sufisme Di Bawah Bayang-bayang Fatamorgana.Jakarta:Penerbit Amzah.2001.

Muhsin, Labib.Mengurai Tasawuf, Irfan dan Kebatinan.Jakarta:PT Lentera Basritama.2004.

Valiudin, Mir.Tasawuf dalam Al-Qur’an.Jakarta:Pustaka Firdaus.1987.

Khan, Sahib Krya Khan.Cakrawala Tasawuf.Jakarta:Rajawali.1987.

Haeri, Syekh Fadhlullah.Belajar Mudah Tasawuf.Jakarta:Lentera.1999.




Endnote

1 A Mustofa.Akhlak Tasawuf.(Bandung:Pustaka Setia.1997),201-202.

2 Harun Nasution.Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam.(Jakarta Bulan Bintang.1995),57-58.

3 Ibid,.58-59.

4 Mustafa.Akhlak Tasawuf.,202-205.

5 M Jamil.Cakrawala Taswuf(Jakarta:Gaung Persada Press.2007).,15.

6 Ibid.,

7 Ibid.,16-17.

8 A Rivay Siregar.Tasawuf dari Sufisme Klasik ke Neo Sufisme(Jakarta:PT Raja Grafindo Persada. 2002),57-58.

9 Ibid.,58.

10 Ibid.,36.

11 Ibid.,

0 komentar:

Post a Comment

Share it

Design by WPThemesExpert | Blogger Template by BlogTemplate4U